BERHENTI CUCI DARAH BERKAT PROPOLIS

Adhitya Tri Wardhana kejang, seluruh badan kaku, dan lemas. Ternyata itu gejala gangguan fungsi ginjal sehingga mesti cuci darah.

Acara liburan kelulusan sekolah di Bali pun riuh, guru dan teman-teman yang tengah asik bermain panik. Mereka membawa Adhitya yang saat itu berusia 16 tahun ke rumahsakit. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan fungsi ginjal Adhitya positif turun. Di tubuhnya terdeteksi penumpukan sisa metabolisme protein dan kekurangan elektrolit. Itulah sebabnya dokter memberi suntikan elektrolit untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Baca lebih lanjut

Iklan

Sembuhkan Gagal Ginjal dengan Terapi Propolis

Komunitas medis konvensional menganggap kasus gagal ginjal termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Untuk mengatasinya mereka akan menawarkan solusi RUTIN cuci darah SEUMUR HIDUP atau cangkok ginjal (yang belum tentu juga berhasil). Biaya sekali cuci darah saat ini berkisar Rp.600.000 – Rp.800.000. Untuk cangkok ginjal diperlukan biaya berkisar Rp.300 juta – Rp.500 juta. Inipun belum termasuk biaya opname, biaya konsultasi dokter, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Geliat Dunia Farmasi di Era Keemasan

”Setiap penyakit pasti ada obatnya.” Sabda Rasulullah SAW yang begitu populer di kalangan umat Islam itu tampaknya telah memicu para ilmuwan dan sarjana di era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan. Pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang kedokteran dan kesehatan di masa keemasan tak lepas dari keberhasilan di bidang farmakologi dan farmasi.

Di masa itu para dokter dan ahli kimia Muslim sudah berhasil melakukan penelitian ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obat sederhana serta campuran. Menurut Howard R Turner dalam bukunya Science in Medievel Islam, umat Islam mulai menguasai farmakologi dan farmasi setelah melakukan gerakan penerjemahan secara besar-besaran di era Kekhalifahan Abbasiyah.
Baca lebih lanjut