Belajar Menerima Kekalahan Ala JK

Sejak Pilres oleh MPR ditahun 1999 Mega selalu kandas tetapi selalu tidak puas akan kekalahan. Tahun 2004 juga dikalahkan oleh SBY dan tidak menerima kekalahan, katanya bukan kalah tetapi hanya kekurangan suara. Peristiwa Pahit terulang lagi di Pilpres Putaran I vs SBY juga Kandas. Pasti Megawati tidak menerima kekalahan dengan berbagai alasan. Menuding pihak lawan melakukan kecurangan-lah, mengungkit2 persoalan DPT-lah and anything else. Apa sih yang dicari Mega ??  Janganlah terbawa emosi hanya ingin membalas dendam kepas Soeharto atau SBY ahirnya Mega menanggung malu dimata lawan politik.

Seharusnya seorang pemimpin harus lah pandai membawa suasana hatinya, tidak mudah terpancing emosi, ibarat kata dalam suatu pertandingan pasti ada yang menang dan yang kalah. Yang menang tidaklah lantas menjadi jumawa atau congkak, yang kalah juga harus menerima kekalahan nya dengan gaya sportifitas.

Seorang politisi maupun negarawan yang besar pasti akan menerima kekalahan dari lawan politiknya dengan lega, iklhas, tidak mencari-cari kesalahan pihak lawan. dan pasti akan mendukung siapapun pemenang-nya, karena pada intinya, pemilihan presiden adalah pemilihan untuk memilih seorang pemimpin negara. Jadi seharusnya pihak2 yang ikut menjadi calon presiden/wakil juga harus tetap berjiwa ksatria untuk terus meneruskan perjuangannya untuk membela negara dengan cara-2 lain, tidak harus menjadi presiden, tetapi tetep bisa menyumbangkan sarannya untuk berlangsungnya pemerintahan yang baik.

Sebaiknya pula Mega harus belajar banyak akan hal ini dari JK, JK bisa menerima kekalahannya dengan cara yang biasa-biasa saja tidak emosi, tidak menyalahkan pihak lain, dan malah aka berinstropeksi diri, mengevaluasi kekalahanya.

Pasangan JK Beri Ucapan Selamat Kepada SBY Lewat Telepon

Bogor – Capres Jusuf Kalla (JK) tampaknya sudah legowo alias ikhlas menerima kekalahannya dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). JK mengucapkan selamat kepada kompetitornya itu melalui telepon.

Saat menerima telepon dari JK, SBY kebetulan sedang hendak memberikan keterangan pers kepada wartawan di pendopo kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Kamis (9/7/2009) malam. Pembicaraan dilakukan tanpa loudspeaker sehingga suara JK tidak bisa didengar wartawan. Berikut kutipan pembicaraan SBY.

“Apa kabar Pak Jusuf?” sapa SBY.

(JK bersuara)

“Terima kasih terima kasih,” kata SBY.

(JK bersuara)

“Ini sebagaimana kita bicarakan berdua dulu, meskipun kompetisi bisa keras, tapi tetap menjalin komunikasi dan silaturahmi. Kita berdua sama-sama memberikan contoh bahwa hubungan tetap terjalin,” sahut SBY.

(JK bersuara)

“Tim kita tetap menjalankan tugas. Dan setelah ini kita bersama-sama bekerja sama melangkah ke depan. Sejarah mencatat jasa Pak Jusuf besar sekali bagi bangsa dan negara. Mari teruskan amanah bagi kita berdua dan Insyaallah ke depan ada jalan yang baik bagi kebersamaan kita. Negara masih membutuhkan Pak Jusuf. Apapun nanti peran Pak Jusuf, kami senang sekali Pak Jusuf bersedia meneruskan darma baktinya bagi negara. Insyaallah kita bicarakan lagi nanti,” tutup SBY.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s